Langsung ke konten utama

Pertemuan dengan Alam

Aku suka menenangkan pikiranku sendiri dengan kata-kata bijak yang aku baca. Salah satu potongan quote favorit yang aku ambil dari cuitan di Twitter, "Sukses itu harus melewati banyak proses, bukan banyak protes" (Merry Riana, 2018). Kata-kata yang pas dan selalu aku jadikan motivasi hingga saat ini. Apa aku tidak pernah mengeluh? Jawabannya, tentu pernah. Bahkan aku selalu memberi ruang untuk itu, hanya saja aku tidak ingin berlama-lama membiarkan partikel-partikel air ditubuhku terlihat buruk karena energi negatif yang aku berikan, begitu juga dengan orang-orang disekelilingku.

Sudah cukup lama rasanya aku membiarkan lamunanku bermain bersama bunyi kumbang yang semakin ramai menyambut senja. Aku kembali ke dunia nyata saat melihat pelayan datang ke arahku dengan membawa makanan yang aku pesan. Mie tek-tek terasa berbeda saat aku makan di ketinggian 850-1000 mdpl, terasa lebih nikmat. Tidak percaya? Coba saja.


Mie tek-tek Kawasan Lereng Anteng Punclut

Aku selalu menyempatkan diriku untuk bersatu dengan alam, bukan dengan yoga, hiking, ataupun naik gunung. Hanya dengan duduk manis di tempat terbuka, dan merasakan semilir angin menggoyangkan anak rambutku. Sejujurnya aku takut berada di tempat yang sangat sepi, dan tidak nyaman berada di tengah keramaian, jadi aku biarkan saja orang-orang hadir dan berjarak denganku. Hal yang selalu aku rindukan adalah mendapat makna baru dari setiap pertemuan ini, dan aku akan berhenti saat otakku mulai terasa lelah memikirkan untuk apa manusia diciptakan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima kasih, Shabrina!

Aku tidak berpikir dua kali untuk bergabung saat Shabrina, salah satu teman di kantorku, memberikan tantangan untuk 15 Hari Menulis. Aku memang punya keinginan untuk menulis sejak lama, bahkan blog ini sudah aku buat dari 2010, tapi belum satu tulisan pun aku torehkan di sini. Sejujurnya, aku sama sekali tidak tahu tentang skill menulis. Aku hanya menulis apa yang ingin aku tulis. Dan saat aku tidak ingin melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Dulu, aku suka sekali membaca. Saat lampu kamar sudah dimatikan karena waktunya tidur, aku seringkali secara diam-diam menyalakan senter didekatku untuk sekedar menghabiskan buku yang sedang aku baca. Ya, aku memang tidak ingin tidur dengan membawa rasa penasaran terhadap ending ceritanya. Alhasil aku harus menggunakan kacamata untuk membantu penglihatanku sejak kelas 3 SD. Minusku pun harus bertambah saat aku memiliki hobi baru untuk membaca buku digital di handphone . Aplikasi favoritku untuk membaca adalah iPusnas. Jika aku tidak bisa ...